Dibalik Kisah Sedih Dihari Itu - SiJumMagelang I Berbagi Nasi Jumat

Jumat, 08 Februari 2019

Dibalik Kisah Sedih Dihari Itu

Dibalik Kisah Sedih Dihari Itu

Kisah sedih di hari Minggu…
Yang slalu menyiksaku ….
Ku takut ini kan ku bawa ….
Sampai mati….

Sepenggal lagu yang tentunya tidak asing di telinga kita.
Kisah mengajar kepada kita untuk belajar
Belajar dengan membaca sebuah kisah akan membuat kita terbawa ke dalam arus cerita yang tanpa kita sadari akan menjadi cermin di kehidupan kita.

Kisah ini mungkin jauh dari sempurna, namun ambil hikmah dan nilai tauziahnya di sana

Alkisah, da sebuah keluarga yang mempunyai kekayaan yang melimpah. Materi yang meimpah membuat mereka sering bepergian untuk berlibur.

Suatu hari disaat mereka sedang berlibur menggunakan sebuah kapal pesiar yang mewah, kapal tersebut mengalami kecelakaa dan akan segera tenggelam. Pasangan suami istri ini berlari menuju skoci yang akan dipergunakan untuk menyelamat nyawa mereka berdua.

Namun ternyata Allah berkehendak lain, skoci terakhir yang disiapkan ternyata tinggal meyisakan 1 tempat untuk mereka berdua. Tanpa berpikir panjang, sang suami melompat mendahului istrinya untuk mendapatkan tempat tersebut. Sang istri menatap dengan mata nanar kearah sekoci yang semakin menjauh terbawa ombak…

Ya Allah… Sang istri melambaikan tangan sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum skoci semakin menjauh dan kapal yang ditumpanginya itu benar-benar telah menenggelamkan dirinya dan menjadikan laut sebagai tempat peristirahatannya yang terakhir..

Ya barangkali segepok rasa tidak sejalan akan kita berikan kepada sang suami, yang telah dengan sengaja meningglkan istri tercintanya meninggal tenggelam terbawa kapal yang karam. Dan itu secara tidak kita sadari pasti akan kita lakukan … UNTUK PERTAMA KALInya..

Seorang guru yang menceritakan kisah ini bertanya pada murid-muridnya, “Menurut kalian, apa yang istri itu teriakkan?” Sebagian besar murid-murid itu menjawab, “Aku benci kamu!” “Kamu egois!” “Nggak tau malu!”

Tapi guru itu kemudian menyadari ada seorang murid yang diam saja. Guru itu meminta murid yang diam saja itu menjawab.

Kata si murid, “Guru, saya yakin sang istri pasti berteriak, ‘Tolong jaga anak kita baik-baik’”. Guru itu terkejut dan bertanya, “Apa kamu sudah pernah dengar cerita ini sebelumnya?” 

Murid itu menggeleng. “Belum. Tapi itu yang dikatakan oleh mama saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis.”

Guru itu menatap seluruh kelas dan berkata, “Jawaban ini benar.”

Kapal itu kemudian benar-benar tenggelam dan sang suami membawa pulang anak mereka sendirian.

Setelah bbertahun-tahun waktu berlalu sang suami meninggal, anak itu menemukan sebuah buku harian yang merupakan milik ayahnya. Di sana dia menemukan kenyataan bahwa, saat orangtuanya naik kapal pesiar itu, mereka sudah mengetahui bahwa sang ibu menderita penyakit kronis dan akan segera meninggal. Karena itulah, di saat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup.

Dia menulis di buku harian itu, “Betapa aku berharap untuk mati di bawah laut bersama denganmu. Tapi demi anak kita, aku harus membiarkan kamu tenggelam sendirian untuk selamanya di bawah sana.”

Cerita itu selesai. Dan seluruh kelas pun terdiam. Guru itu tahu bahwa murid-murid sekarang mengerti moral dari cerita tersebut,

Ada berbagai macam komplikasi dan alasan di baliknya yang kadang sulit dimengerti.

Mereka yang sering membayar untuk orang lain, mungkin bukan berarti mereka kaya, tapi karena mereka menghargai hubungan daripada uang.

Mereka yang bekerja tanpa ada yang menyuruh, mungkin bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka menghargai konsep tanggung jawab.

Mereka yang minta maaf duluan setelah bertengkar, mungkin bukan karena mereka bersalah, tapi karena mereka menghargai orang lain.

Mereka yang mengulurkan tangan untuk menolongmu, mungkin bukan karena mereka merasa berhutang, tapi karena menganggap kamu adalah sahabat dan saudara.

Mereka yang sering mengontakmu, mungkin bukan karena mereka tidak punya kesibukan, tapi karena kamu ada di dalam hatinya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah SWT dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah SWT, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hasyr 59)

“Dari Syadad bin Aus r.a, dari Rasulullah SAW, bahwa beliau berkata,”Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT”. (HR. Imam Turmudzi).

Bantu Share Juga Ke WHATSAPP Ya Sahabat. :) Terima Kasih

Lihat Juga Yang Lainnya

© Copyright 2019 SiJumMagelang I Berbagi Nasi Jumat | All Right Reserved